Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu
hari lagi, aku akan kabarin lagi”.Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku
ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku
tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah
Sebagai seorang istri,
aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk
menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan
masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.
Bel
pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam.
Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap
berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci
kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah
kami.Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa
reaksinya..
Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia
hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur
tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikir, mungkin dia
capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur.
Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu
Allah, Sang Maha Pencipta.Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi
karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya.
Aku hanya mengelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat
tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.
******************
Aku
mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari
balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya
tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari
atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk
mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.
Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?
Aku
tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat
itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku dan kebetulan Dian yang
mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang
terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja
sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.
Ada apa ini?
Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia
kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku,
apalagi memanjakan aku.
Semakin hari ia menjadi orang yang
pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang
suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya.
Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia
bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah..Bahkan yang
membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku.
Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu,
tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status
suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.
Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.
Dua
tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap
malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru
saja berkenalan.
Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah
sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya
& menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan
dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang
aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah
aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.
Bersyukurlah..
aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru
ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan
kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.Sungguh.. suami yang dulu aku
puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku,
setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri.
Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.
“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.
“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.
Astaghfirullah..
suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia
membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.
Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”
Lalu
aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang
sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.
Lima
tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing
buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto
pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es.
Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak
berteriak, tapi aku tak bisa.Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar,
ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang
perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya
bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini,
dalam kesendirianku..
Kami telah sampai di Sabang, aku
masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus
berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu
& adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..Aku dan suamiku
pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia
pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
Baru
saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari
tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum
suamiku lahir, tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku
memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju
ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak
seperti rumah zaman peninggalan belanda.
Kemudian aku
duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan,
aku tak berani bertanya padanya.Tiba-tiba saja neneknya, orang yang
dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka
pembicaraan.
“Baiklah, karena kalian telah berkumpul,
nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas,
dengan sorot mata yang tajam.
”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..
Nenek
pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8
tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang
sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.
Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?
“Sebenarnya
kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah
dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan
akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang,
mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan
suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku
peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya
keberanian itu.
Neneknya masih saja berbicara
panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang
sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau
diceraikan?“
MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin
jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku.
Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.
Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.
Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah.
‘’Untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami..”
Itu
yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada
saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air
mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”
Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”
Aku
pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan
pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan
ini Nek?.”
Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”
”Baiklah
kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya
mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku
permisi untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi.. air mata
ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku
langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri
disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit.
Diiringi akutnya penyakitku..
Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?
Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“
Ku
ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat
wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah
hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.
Tiba-tiba
pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri
dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari
cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai
pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi
aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”
Suamiku
mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum
dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah
memakai shampo.
Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?”
dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam,
kita istirahat yuk!“
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.
Dalam
sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku
akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan
suamiku.
Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga.
Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu,
yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu..Malam
sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di
laptopku.
Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku
melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku
menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai
ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”
Hari
pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk
keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena
mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat
lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk
dan berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah siap?”
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :
“Nanti
jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam
rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu
ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di
ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah
itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan
pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.
Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”
*********Bersambung****************

Tidak ada komentar:
Posting Komentar